Duta besar adalah mata dan telinga negaranya Guiciardini DUTA Besar Siagian bikin satu kup diplomatik. Setelah bertahun-tahun plotot-plototan politik antara Indonesia dan Australia, dia berhasil mengajak Perdana Menteri Keating bertandang ke Jakarta. Sekelompok orang Indonesia mahir menggunakan situasi untuk berbuat baik bagi masyarakatnya. Sabam Siagian termasuk didalamnya. Situasinya memang menguntungkan: Keating muncul menunjukkan pamor teknokratis setelah Hawk lama bertahan dengan bobotnya yang politis. Bob Hawk naik tangga politik melalui gerakan buruh. Ia bertahan lama karena bahasa politiknya progresip dan memuaskan sayap kiri partai buruhnya yang sangat vokal. Tindakan ekonominya pragmatis dan penting untuk dukungan sektor bisnis. Arsitek ekononi Hawk adalah Keating. Ketika resesi merusak perekonomian Australia, dan Hawk ingkar janji untuk mundur dan mengangkat arsitek ekonominya sebagai pengganti, Paul Keating berhenti. Perceraian ini, di samping faktor-faktor penting yang lain telah mempercepat masa pensiun Bob Hawk. Di Indonesia suasananya juga menguntungkan: Ada peristiwa Timor Timur, ada affair IGGI, dan ada seorang Menlu yang tertempa tiga puluh tahun pengalaman diplomasi internasional. Tambah lagi satu bonus: Di samping relasi dinas, Ali Alatas punya hubungan pribadi yang dekat dengan Menlu Gareth Evans. Ini sangat membantu dalam artikulasi kepentingan politik dan ekonomi masing-masing negara. Kita butuh teman dalam menghadapi kampanye Portugal. Australia butuh stabilitas dan ekspansi operasi modalnya di Indonesia. Persilangan kebutuhan ini dengan hati-hati meningkat dari suatu entente cordiale, menjadi tali-temali ikatan kepentingan. Pada saat itu Sabam merebut rendezvous dengan sejarah. Masuk sebagai debutant dalam dunia diplomasi, dalam waktu singkat ia menggelar skenario trans-regional: Pelangi Canberra-Jakarta terpasang sudah. Tiada kelompok lain dalam masyarakat Australia yang lebih teguh komitmennya pada Indonesia dari pada sektor bisnisnya. Pada ketika Australia terjerat dalam bayangan keliru tentang Indonesia sebagai "bahaya dari Utara", bisnis Australia masuk terus ke Indonesia. Pada ketika episoda Sydney Morning Herald memecut emosi resmi di Jakarta, bisnis Australia di Indonesia siap menanggung angin ribut dan bertahan. Pada ketika fenomena Timor Timur mengguncang emosi masyarakat Australia, para pengusaha Australia terus berjaga di Nusantara. Bagaikan suatu sub-kultur pragmatisme masyarakat negeri asalnya, mereka mengerti bahwa era konsepsi besar telah berganti menjadi jaman rekayasa bangunan-bangunan kecil yang berguna. Para penjelajah di kalangan mereka bernavigasi dipucuk riak gelombang global dengan semboyan: Perdagangan menumpang investasi tanpa komitmen tiada ikatan. Gambaran ini tidak merata di kalangan bisnis Australia. Pada saat ini kelompok yang mempunyai komitmen pada Indonesia merupakan minoritas kecil. Wawasan sebagian besar pengusaha Australia masih terbatas pada pola pemikiran dan perbuatan yang sudah mereka kenal sejak kecil. Mereka berpaling ke Inggris dan tidak sabar terhadap pola berpikir dan kelakuan yang berbeda. Bila dihadapkan pada situasi asing seperti itu, mereka resah dan, apabila tidak cepat teratasi dengan cara mereka yang konfrontatif, mereka putus asa dan angkat kaki. Sikap seperti itu didukung oleh mayoritas direksinya di Sydney dan Melbourne. Kalau tidak cocok dengan budayanya, harus diperjuangkan mayoritas mutlak. Kalau tidak berhasil memperoleh mayoritas mutlak, lebih baik mengundurkan diri. Sikap seperti ini menghambat upaya patungan sejati. Saya jadi teringat pada keluhan seorang partner senior kantor pangaca besar di Brussel dan Antwerpen tentang "penyerbuan" Eropa oleh kantor-kantor pengacara Inggris: "Usaha patungan ditentukan oleh persenyawaan kimiawi antara para mitra ini membutuhkan proses saling menyesuaikan diri yang intensif. Orang Anglosakson tidak punya waktu untuk itu. Mereka minta semuanya, atau tidak sama sekali!" Kita berharap agar gagasan putus hubungan dengan Ratu Inggris yang diprakarsai oleh Paul Keating baru-baru ini tidak sekadar merupakan simbol kemandirian budaya Australia, melainkan juga berakibat meluasnya kosmopolitisme di kalangan pengusahanya dan pemuka masyarakatnya. Selama empat tahun saya sempat menonton Australiana di Sydney. Dari masyarakat "menteng"nya yang puas diri sampai ke masyarakat pekerjanya yang gandrung libur. Dalam batas yang amat dasar orang Australia sama dengan orang Indonesia. Barangkali mitos kita mengijinkan lebih banyak variasi dari pada yang dimiliki psiko Australia. Di dalam sanubari kita ada tempat buat corak feminin Arjuna, kekasaran Bima dan keraguan dalam sikap bijaksana seorang Yudistira. Di dalam budaya kita juga dimaafkan corak relativis, pola kurang-lebih yang baik bercampur dengan yang kurang baik. Di pihak mereka ada kedalaman upaya mencapai karya profesional yang sempurna. Ini didukung oleh sistem pendidikan yang terus membaik. Saya ingin tukar-menukar sikap dan sifat dengan mereka di dalam proses itu kita akan berubah dan tumbuh yang satu menghampiri yang lain. Dari saya ada komitmen yang tidak menanti sambutan lagi dari sana. Komitmen itu tumbuh dari ikatan hati dengan orang dan ekologi mereka di sana. Komitmen itu menjadi kuat ketika di subuh hari saya saksikan matahari kembar bersilang di atas selembar air yang terbentang dari tepi Seaforth sampai bukit Castlecragh di suatu musim semi. Sydney, si cantik dia. "G'day, Paul. No worries, mate!"
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini