Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Politik

Ganjar di Kampanye Hajatan Rakyat: Kritik Perlu agar Penguasa Peka ke Rakyat dan Tidak Pekok

Ganjar Pranowo menghadiri kampanye terbuka bertajuk Hajatan Rakyat di Alun Alun Wates Kulon Progo, Yogyakarta Ahad 28 Januari 2024.

28 Januari 2024 | 19.34 WIB

Capres nomor urut 03 Ganjar Pranowo saat menghadiri kampanye Hajatan Rakyat di Alun Alun Wates Kulon Progo Minggu sore 28 Januari 2024. Tempo/Pribadi Wicaksono
Perbesar
Capres nomor urut 03 Ganjar Pranowo saat menghadiri kampanye Hajatan Rakyat di Alun Alun Wates Kulon Progo Minggu sore 28 Januari 2024. Tempo/Pribadi Wicaksono

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Yogyakarta - Capres nomor urut 03 Ganjar Pranowo menghadiri kampanye terbuka bertajuk Hajatan Rakyat di Alun Alun Wates Kulon Progo, Yogyakarta Ahad 28 Januari 2024.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Ganjar yang datang sendiri tanpa didampingi cawapresnya Mahfud MD dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menyampaikan orasi di hadapan ribuan massa.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Salah satunya yang disinggung mantan Gubernur Jawa Tengah itu pengalamannya ketika menonton pementasan drama teatrikal bertajuk Musuh Bebuyutan besutan Butet Kartaradjesa di Taman Budaya Yogyakarta Rabu 24 Januari 2024.

Ganjar menuturkan, isi pementasan drama yang ditonton bersama Mahfud MD dan Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto ternyata banyak berisi kritik dan sindiran rakyat kepada penguasa.

"Kami nonton aksi panggungnya, ternyata memang nyebelin, karena isinya kritik tok (saja)," kata Ganjar.

Namun Ganjar mengaku maklum, karena kritik dari rakyat kepada penguasa adalah bagian dalam kehidupan demokrasi yang dianut di Indonesia.

"Adanya kritik membuat penguasa akan selalu diingatkan, agar penguasa selalu mengasah rasa sehingga peka kepada rakyat dan akhirnya tidak pekok (bodoh)," ujar Ganjar.

"Dengan seni, budaya, dan kepekaan yang kita miliki maka insyaallah kita tidak menjadi pekok," urai Ganjar.

Ganjar dalam orasinya pun menceritakan kembali kisah yang pernah dialami sang seniman Butet Kartaradjasa soal karyanya itu. Bagaimana Butet sempat kerepotan mementaskan karyanya itu sehingga perijinannya ditinjau ulang. 

"Mas Butet sebagai seorang seniman, budayawan yang untuk manggung saja tenyata tidak gampang," kata dia.

"Undangan-undangan panggung Mas Butet dipreview, boleh manggung tapi nggak boleh ngomong politik, maka panggungnya dipindah," kata dia.

Meski kritik perlu, namun Ganjar mengakui etika dan sopan santun juga tak kalah penting. Ganjar pun menuturkan ia bersyukur mengalami masa muda dengan sekolah dan kuliah di Yogyakarta.

"Saya belajar banyak hal dari Yogya, terutama sopan santun dan unggah ungguh (tata krama) nya," kata dia 

"Yogya telah menjadi contoh yang baik agar etika selalu jadi pegangan," kata dia.

PRIBADI WICAKSONO

Eko Ari Wibowo

Eko Ari Wibowo

Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret. Bergabung dengan Tempo sejak 2005. Kini menulis tentang isu politik, kesra dan pendidikan. 

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus