Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Pendidikan

Taman Hiburan Rakyat Sriwedari Solo Memilih Tutup Selamanya

Karena tidak mendapat lokasi baru, pengelola Taman Hiburan Rakyat Sriwedari memilih untuk tutup selamanya.

12 Oktober 2017 | 16.34 WIB

Sekelompok anak mengikuti Festival Dolanan Bocah di Sriwedari Solo, (18/05). Festival itu digelar untuk melestarikan permainan tradisional yang terus tergeser oleh permainan modern. Tempo/Ahmad Rafiq
Perbesar
Sekelompok anak mengikuti Festival Dolanan Bocah di Sriwedari Solo, (18/05). Festival itu digelar untuk melestarikan permainan tradisional yang terus tergeser oleh permainan modern. Tempo/Ahmad Rafiq

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100

TEMPO.CO, Solo - Pengelola Taman Hiburan Rakyat (THR) Sriwedari akhirnya memilih tutup selamanya setelah kontrak dengan Pemerintah Kota Surakarta berakhir. Tempat hiburan itu tidak mendapatkan lokasi baru sebagai pengganti lahan Sriwedari yang telah ditempatinya selama 32 tahun.

Direktur THR Sriwedari, Sinyo Sujarkasi menyatakan bahwa lokasi yang digunakan harus sudah kosong pada awal Desember ini. "Dengan berat, THR Sriwedari harus tutup lantaran tidak mendapat tempat baru," katanya, Kamis 12 Oktober 2017.

Baca juga: 30 Tahun Menghibur Warga Solo, THR Sriwedari Mulai Dibongkar

Menurut Sinyo, pemerintah sebenarnya telah menyediakan lahan pengganti di Taman Satwa Taru Jurug. "Namun ternyata harga sewanya jauh lebih mahal," katanya. Padahal lokasi yang ditawarkan itu berada di daerah pinggiran kota.

Pendapatan yang diperoleh THR Sriwedari, menurutnya, tidak akan mampu untuk membayar sewa di lokasi yang ditawarkan. "Selama ini kami berkomitmen untuk memberikan hiburan murah kepada masyarakat," kata Sinyo.

Pemerintah Kota Surakarta tidak memperpanjang lagi kontrak THR sejak akhir tahun lalu. Mereka akan melakukan penataan di kawasan Sriwedari. "Kami berterima kasih kepada Pemkot Surakarta yang memberi kesempatan setahun bagi kami mencari lahan baru," katanya.

Selama ini, THR Sriwedari menyumbang pendapatan kepada Pemerintah Kota Surakarta melalui sewa lahan maupun pajak tontonan yang dibayarkan. "Kami tertib membayar pajak sebesar 25 persen hingga 35 persen dari tiket," katanya.

Belum lagi, berbagai wahana permainan dan panggung musik yang digelar tiap malam mampu menyedot ribuan penonton dari berbagai daerah. Tiap bulan, rata-rata ada 50 grup musik yang tampil di panggung yang berada di kompleks THR Sriwedari.

Salah satu pegawai yang telah bekerja di THR Sriwedari selama 32 tahun, Retnosari Ariani, mengatakan pada awalnya panggung musik hanya tersedia tiap Sabtu malam. "Saat itu kami hanya mengakomodir musik dangdut," katanya.

Namun, permintaan dari masyarakat membuat THR Sriwedari akhirnya mementaskan musik dengan berbagai genre. Mereka selalu mementaskan lagu Koes Plus pada Senin dan Kamis malam. Selanjutnya, ada juga slow rock pada Selasa malam, dangdut pada Rabu dan Sabtu malam, tembang kenangan pada Jumat malam dan campursari pada Minggu malam.

Dari panggung musik itu lahirlah berbagai komunitas penggemar musik yang menjadi pelanggan loyal di THR Sriwedari. Salah satunya adalah Koes Plus Fans Club Surakarta, di mana Presiden Joko Widodo pernah menjadi pembinanya.

AHMAD RAFIQ

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600
close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus