Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Sapardi Djoko Damono*
Konon, kalau ingin cerdas, kita harus sering-sering mengasah otak. Otak dianggap atau disamakan dengan pisau, yang harus sering diasah agar meningkat ketajamannya. Kalau kita menafsirkannya secara harfiah, ungkapan itu sungguh mengerikan. Otak diambil dari kepala, diadu dengan batu pengasah supaya tajam. Di samping itu, otak kita sama sekali berbeda wujudnya dengan pisau, yang memang kita ciptakan sedemikian rupa agar bisa ditajamkan. Bahasa adalah alat komunikasi utama dalam kehidupan, tidak hanya manusia, tapi juga semua makhluk hidup. Kita manusia, oleh karena itu, hanya mengetahui bagaimana cara mengutak-atik alat komunikasi kita ini agar, kira-kira, bisa lebih mampu menyampaikan maksud yang diinginkan. Salah satu hasil utak-atik yang ampuh, kalau tidak boleh dikatakan dahsyat, adalah kiasan.
Kita adalah makhluk pencipta kiasan. Namun bisa saja pencipta ini menjadi kaget sendiri ketika mengembalikan anasir kiasan itu ke maknanya yang mula-mula. Tulisan ini diilhami oleh sebuah posting di media sosial yang memasalahkan sebuah kiasan. Posting itu menjelaskan, kira-kira, bahwa ungkapan "memecahkan masalah" itu keliru—atau "bermasalah"—sebab masalah yang dipecahkan itu malah menjadi banyak jumlahnya karena berantakan dan banyak sekali kepingnya. Diusulkannya, kira-kira demikian maksudnya, agar ungkapan tersebut diluruskan menjadi "menyelesaikan masalah". Dengan ungkapan itu, masalah menjadi selesai dan tidak malah menjadi semakin banyak. Usul sedemikian muncul karena kita mengembalikan tiap unsur kiasan ke maknanya semula.
Kita kembali ke awal tulisan ini, yakni yang mengutak-atik otak. Permainan, atau sebut saja kecerdasan, berbahasa justru tampak pada penciptaan kiasan. Kita menciptakan kata demi kata, menyusunnya menjadi ungkapan dan kalimat, dengan cara menyejajarkan dan membentur-benturkan maknanya. Otak tidak hanya dibandingkan dengan pisau, tapi juga dengan benda cair (otak encer) dan posisi sebuah benda (otak miring). Otak yang digeser ke sana-sini untuk menjelaskan pengertian atau makna juga dibandingkan dengan otak milik makhluk lain. Kiasan "otak udang" mengandaikan, meskipun punya otak, udang dianggap begitu bodoh sehingga orang yang berotak udang dianggap sama bodohnya dengan udang. Otak udang, kalau tidak keliru, ukurannya sangat kecil dibandingkan dengan otak manusia. Otak manusia lebih besar ukurannya; itu sebabnya pemiliknya dianggap lebih pandai. Namun apakah ukuran otak yang menentukan pandai-tidaknya orang atau makhluk? Kalau begitu, gajah memiliki kepandaian yang mengatasi manusia—kalau memang benar bahwa binatang itu memiliki otak yang lebih besar ukurannya. Mungkin karena tidak yakin tentang hal itu, kita tidak menciptakan ungkapan "berotak gajah" bagi orang yang memiliki kecerdasan lebih.
Otak adalah bagian tubuh yang mengendalikan segala segi kemanusiaan kita. Kita berpikir dengan otak dan tidak disarankan menggunakan dengkul. Dengkul kita gunakan atas perintah dan izin otak. Dengkul dipergunakan untuk kemampuan yang berkaitan dengan kecerdikan dalam mengusahakan sesuatu. Orang yang tidak memiliki apa pun tetap dianggap memiliki dengkul; itu sebabnya kita menciptakan kiasan "bermodal dengkul". Meskipun hanya bermodal dengkul, kita bisa saja berhasil dalam menjalankan usaha. Demikianlah, perangai bahasa, atau perangai kita berbahasa, menyebabkan dua hal yang bertentangan bisa saja menjadi sejajar maknanya.
Kiasan menyegarkan bahasa, di samping menegaskan makna. Kita hidup dan berkomunikasi dengan bahasa—lebih tepat lagi kalau dikatakan berkomunikasi dengan kiasan. Namun, karena kiasan pada dasarnya membandingkan dua hal yang tidak sama untuk menjelaskan makna, bahasa ilmiah mengharamkannya. Bahasa ilmiah, yang menuntut ketepatan makna, akan terganggu kalau kiasan diterima dengan cara berpikir semacam itu. Sebaliknya, bahasa kreatif justru menuntut proses itu untuk memberi peluang munculnya ketaksaan makna demi kebebasan tafsir dan ruang yang luas untuk imajinasi. Namun kegiatan ilmiah pada dasarnya adalah upaya menciptakan masalah agar ada yang bisa dipecahkan. Memecahkan masalah adalah hakikat kegiatan ilmiah. Nah. l
Sastrawan
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
- Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
- Akses penuh seluruh artikel Tempo+
- Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
- Fitur baca cepat di edisi Mingguan
- Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo