Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDIP, Aria Bima, tidak mau banyak berkomentar mengenai hubungan Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Awalnya Bima ditanya apakah kehadiran Ketua DPP PDIP sekaligus putri Megawati, Puan Maharani, dalam Kongres Partai Demokrat kemarin merupakan membaiknya hubungan Presiden ke-5 dengan SBY. Dia menegaskan jika berbicara dalam konteks hubungan antar partai, PDIP dan Demokrat selalu berjalan baik di DPR.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
“Kalau kita juga lihat dari pilkada-pilkada, antara PDIP dan Partai Demokrat itu selalu menjaga posisi masing-masing dan tetap saling menghargai,” kata Bima ditemui usai rapat komisi II DPR di gedung parlemen, Senayan, pada Rabu, 26 Februari 2025. “Kalau mengenai Ibu dan Pak SBY, saya kira yang tahu Pak SBY dan Ibu, mereka sendiri.”
Bima menjelaskan kehadiran Puan Maharani di Kongres Partai Demokrat dalam kapasitasnya sebagai Ketua DPR. Ia juga mengatakan ada undangan dari Partai Demokrat ke PDIP. Soal posisi PDIP, Bima mengatakan peluang kerja sama antarpartai politik di pemerintahan akan ditentukan dalam kongres dalam waktu dekat.
“Mbak Puan cukup luwes di dalam berkomunikasi dengan lintas partai politik karena, saat ini memang kita butuh komunikasi,” kata Bima.
Hubungan berjarak Megawati dan SBY bermula dari rivalitas politik menjelang Pemilu 2004. Kala itu, SBY merupakan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan di Kabinet Gotong Royong yang dipimpin Megawati.
Kemudian, keduanya bersaing di panggung Pilpres 2004. SBY yang berpasangan dengan Jusuf Kalla secara mengejutkan berhasil mengalahkan Presiden Megawati dengan perolehan suara 60,62 persen berbanding 39,38 persen.
SBY kembali mengalahkan Megawati di Pilpres 2009. Saat itu Megawati berpasangan dengan Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra — saat ini Presiden RI.