Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Pendidikan

Benang Kusut Ferienjob Mahasiswa Indonesia di Jerman

Beberapa mahasiswa yang menjalani Ferienjob di Jerman mengadukan beragam masalah ke KBRI Berlin.

24 Desember 2023 | 23.23 WIB

Ilustrasi mahasiswa. Freepik.com
Perbesar
Ilustrasi mahasiswa. Freepik.com

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Salah tafsir menyoal Ferienjob di Jerman bagi mahasiswa Indonesia masih menjadi pergolakan. Lewat Ferienjob itu, selama tiga bulan, mahasiswa bekerja, seperti mengemas barang, mengantarkan paket, mengangkat barang dan pekerjaan yang mengandalkan tenaga fisik lainnya. Padahal Ferienjob di Jerman adalah kesempatan kerja khusus bagi mahasiswa yang tengah libur resmi semester, bukan program magang.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Ferienjob dianggap bagian dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka atau MBKM. Itu merupakan program yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi yang bertujuan mendorong mahasiswa menguasai berbagai keilmuan untuk bekal memasuki dunia kerja.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Plt Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbudristek Nizam telah menegaskan Ferienjob bukan bagian dari MBKM meskipun mahasiswa mendapatkan pengalaman baru dan bisa belajar budaya. "Memang mahasiswa belajar bekerja. Ya, itu ya baik-baik saja. Itu kan juga melatih resiliensi, menjadi tahan banting dan mengetahui bagaimana kerja dj Jerman, misalnya ya. Belajar budaya juga. Dari kacamata itu sih, mahasiswa dapat pengalaman. Tapi dari kacamata MBKM, sebetulnya kurang pas," kata dia kepada Tempo.

Lewat surat tertanggal 27 Oktober 2023, Nizam mengimbau agar Ferienjob di Jerman bagi mahasiswa Indonesia dihentikan, baik untuk kegiatan yang sedang berlangsung maupun yang akan berangkat. Akan tetapi, kata Minister Counsellor Penerangan, Sosial dan Budaya Kedutaan Besar RI (KBRI) di Berlin Jerman Devdy Risa, hanya pemberangkatan setelah surat tersebut yang diberhentikan. Sementara itu, kegiatan yang tengah berjalan di Jerman tetap dilanjutkan.

"Informasinya selesai Desember, mereka berangkat Oktober. Jadi, mereka yang ada di sini akan menyelesaikan sampai akhir, baru pulang, kecuali yang bermasalah," kata Devdy.

Devdy mengatakan beberapa mahasiswa yang menjalani Ferienjob di Jerman mengadukan beragam masalah ke KBRI Berlin. Ada mahasiswa yang ingin pulang, namun terhalang sebab tiket pesawat telah dipesan sesuai jadwal berakhirnya Ferienjob. Mereka punya pilihan untuk mengubah jadwal pesawat, tapi butuh biaya lagi. Selain itu, ada mahasiswa yang mengadukan masih belum mendapatkan pekerjaan sehingga mahasiswa tak mempunyai pemasukan.

"Yang memang memiliki orang tua berkemampuan (ekonomi), ya kemudian dia menyesuaikan tiketnya, terus pulang. Ada saya dengar beberapa yang sudah pulang, tapi kebanyakan mereka masih berusaha untuk bertahan," kata Devdy.

KBRI Berlin menerima hingga 13 jenis laporan pengaduan dalam kasus Ferienjob, di antaranya:

1. Kontrak antara peserta dan agen penyalur hanya ditulis dalam bahasa Jerman tanpa terjemahan

2. Ketidakjelasan jenis pekerjaan dan tempat kerja masing-masing peserta sebelum berangkat ke Jerman

3. Kontrak kerja antara peserta dan pemberi kerja tidak disampaikan sebelum peserta tiba di Jerman

4. Jenis pekerjaan yang tidak sesuai dengan informasi yang diberikan oleh pihak agen rekrutmen

5. Peserta tak kunjung disalurkan ke pemberi kerja setelah tiba di Jerman, tanpa kejelasan waktu kapan mulai bekerja

6. Pemutusan kontrak kerja sepihak

7. Pengaturan akomodasi yang tidak jelas

8. Tantangan dan risiko seperti kondisi kerja, finansial, dan sosial yang tidak dijelaskan secara transparan kepada calon peserta sejak awal

9. Persoalan gaji

10. Masa berlaku visa dengan jadwal keberangkatan atau kepulangan tidak sinkron, sehingga peserta harus mengeluarkan biaya untuk penjadwalan ulang tiket pesawat

11. Mengalami sakit, kelelahan fisik maupun mental, dan dirawat di rumah sakit akibat pekerjaan manual yang terlalu berat

12. Diskriminasi terhadap mahasiswi yang menggunakan atribut keagamaan tertentu

13. Ketidakjelasan mengenai pungutan yang akan diminta oleh agen, baik di Indonesia atau Jerman.

Di samping 13 permasalahan tersebut, kata Devdy, mahasiswa Ferienjob dari Indonesia mengalami gegar budaya. Misalnya dari segi cuaca hingga kehidupan sosial di Jerman. 

Per 13 Desember, KBRI Berlin masih menerima laporan dari mahasiswa. "Masih kami dengar lagi. Karena bagaimanapun ini kerja kasar ya. Sudah pastilah ada yang bermasalah. Ada yang diberhentikan, mereka terkatung-katung, banyak hal lain juga yang memang teman-teman itu banyak baru menyadarinya di sini," ujar Devdy. 

Selanjutnya, hal yang keliru dari Ferienjob ...

Keliru Ferienjob

Ferienjob ini sebenarnya hanya dibuka pada masa libur resmi mengikuti linimasa perkuliahan di Jerman. Mahasiswa Indonesia yang saat ini Ferienjob di Jerman telah memulainya sejak Oktober lalu dan akan berakhir di penghujung bulan Desember ini. Namun, masa libur resmi di kampus Indonesia bukanlah pada rentang Oktober sampai Desember.

Devdy mengatakan persoalan masa libur ini adalah salah satu kekeliruan yang harus diluruskan. "Harusnya waktu mereka kuliah malah berangkat ke sini dan mengaku waktu libur. Hampir sebagian besar kami tanya, mereka juga masih diharuskan online kuliah sambil kerja ini. Kasihan anak-anaknya, harus bekerja kasar, terus tengah-tengah malam mereka harus online kuliah," kata dia.

Persoalan ini sempat dibahas bersama oleh otoritas terkait pada 2022, mulai dari dari universitas hingga Dikti. KBRI Berlin juga telah menyampaikan hambatan yang menjadi batu sandungan untuk ikut Ferienjob.

Pertama, Ferienjob murni untuk bekerja, bukankah program magang. Kedua, Pemerintah Jerman mewajibkan Ferienjob dilakukan pada saat libur, sedangkan libur perkuliahan di Jerman berbeda dengan di Indonesia. 

Mengingat kedua poin ini, kala itu KBRI Berlin menyarankan untuk mematangkan segala standar operasional prosedur (SOP) hingga payung hukumnya sebelum mulai dijalankan. Namun program itu akhirnya tetap berjalan.

"Waktu itu kami kagetnya di situ. Ini payungnya (hukum) belum ada, SOP belum dibuat, kok udah berangkatin," kata Devdy. 

Mahasiswa Ferienjob dari Indonesia disalurkan oleh PT Sinar Harapan Bangsa (SHB). Perusahaan ini didirikan pada 2022. Pada tahun yang sama, SHB mengajukan agar pintu Ferienjob dibuka bagi mahasiswa Indonesia.

"Kami sudah komunikasi dengan universitas, termasuk KBRI di Berlin. Setelah program ini kami sampaikan, mereka (KBRI) tidak menyetujui karena semester holiday Indonesia bukan di Oktober, November dan Desember, sedangkan permintaan di Jerman bulan Oktober, November, Desember," kata Direktur SHB Enik Waldkönig.

Pelaksanaan kegiatan itu seolah mendapat lampu hijau setelah terbit Surat Pernyataan dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah III Jakarta pada 16 Agustus 2022. Surat yang diteken oleh Kepala LLDikti saat itu Paristiyanti Nurwardani menyatakan Ferienjob adalah bagian dari implementasi MBKM.

Dalam surat statement letter berbahasa Inggris itu, tertulis bahwa surat itu keluar sehubungan dengan surat Rektor Universitas Binawan yang mengacu pada pergeseran kalender akademik berkaitan Program Libur Kerja yang dilaksanakan secara mandiri oleh Universitas Binawan. Program itu disebut merupakan bagian implementasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Penelitian dan Program prioritas teknologi bernama Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). 

Ferienjob disebut dapat menguatkan keahlian mahasiswa dan mengembangkan kemampuannya. Kalender akademik kampus dapat digeser berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi.

Enik mengatakan surat itu menyampaikan bahwa Ferienjob bisa di-combine dengan MBKM. "Hanya saja dari kami menegaskan bahwa ini tidak related dengan apapun, termasuk studi. Mau dimasukkan ke magang, MBKM, internship dan lain-lain, itu tidak masuk. Kami sampaikan ke mahasiswa ini adalah program Ferienjob, tepat di waktu libur. Bisa cuti, bisa juga libur semester. Karena libur semester itu tidak cocok, jadinya mereka ambil cuti," ujarnya.

Devdy mengatakan mahasiswa yang ikut Ferienjob terbang ke Jerman dengan visa khusus yang hanya berlaku selama 90 hari. Visa Ferienjob ini murni untuk bekerja dan jelas berbeda dengan visa magang.

"Kalau untuk internship, visanya beda lagi. Kalau memang ini disampaikan sebagai bisnis tenaga kerja, itu fine. Sangat tidak bermasalah. Jadi, yang bermasalah adalah ini dikaitkan dengan Merdeka Belajar. Itu sebenarnya masalah utamanya," kata Devdy.

Enik membenarkan beberapa universitas memang menggunakan embel-embel magang dan MBKM. "Karena yang menggunakan bahasa itu (magang dan MBKM) lebih dari 40-an, itulah yang menjadi kontroversi," kata dia.

Selanjutnya, salah kaprah Kampus Merdeka ...

Salah kaprah Kampus Merdeka

Ferienjob bagi mahasiswa dari Indonesia sebenarnya telah dimulai sejak 2022. Universitas Binawan merupakan kampus pertama yang mengirimkan mahasiswanya. Setelah Ferienjob pertama selesai, SHB pun safari berkeliling ke kampus-kampus lain di Indonesia guna penjajakan kerja sama dan penandatanganan Memorandum of Understanding.

"Kami bersurat ke universitas-universitas. Ada beberapa universitas yang welcome. Akhirnya kami bantu aturkan agar bisa mengunjungi universitas untuk tanda tangan kontrak, agreement," kata Enik.

Sejak awal 2023, sejumlah kampus mulai membuka kesempatan Ferienjob bagi mahasiswanya. Enik mengatakan perusahaannya membuat perjanjian dengan kampus untuk memberikan sejumlah uang yang disebut sebagai donasi. "Kami menyumbang sebagian untuk kampus, kami tidak kasih komisi," kata dia.

SHB akan memberikan uang sejumlah Rp 80 juta jika kampus berhasil mengirimkan hingga 250 mahasiswa dan Rp 200 juta jika berhasil mengirimkan sebanyak 500 orang mahasiswa.

Namun, biaya untuk keberangkatan mahasiswa juga terbilang besar dan ditanggung secara pribadi. Menurut perhitungan Enik, satu orang mahasiswa setidaknya mengeluarkan biaya Rp 25 juta sampai Rp 30 juta. Biaya tersebut sudah termasuk tiket pesawat pulang-pergi dan komisi untuk SHB sebesar 450 Euro atau kurang lebih Rp 7,6 juta.

Masing-masing mahasiswa akan mendapatkan gaji 13 Euro per jam atau sekitar Rp 219 ribu. Dalam hitungan satu bulan, Enik menaksir pendapatan mereka kisaran 1.800 hingga 2.000 Euro atau sekitar Rp 30 juta.

Dari total sebanyak 50-an kampus yang mengirimkan mahasiswa untuk Ferienjob, tak sedikit kampus yang menjanjikan konversi SKS. Universitas Jambi atau Unja adalah satu di antaranya.

Pada Mei 2023, untuk pertama kalinya Unja membuka pendaftaran Ferienjob. Selebaran informasi menyebutkan bahwa kegiatan mahasiswa di Jerman selama tiga bulan akan direkognisi ke dalam MBKM. Selama menjalani Ferienjob, kegiatan akademik mahasiswa di Unja akan diliburkan. 

Ketua Humas Unja Mochammad Farisi mengatakan saat ini ada 86 orang mahasiswa Unja yang ikut Ferienjob di Jerman. Mahasiswa tersebut akan mendapatkan konversi SKS.

"Jadi, memang mereka di sana itu kan magang dan dianggap menjadi bagian dari perkuliahan, MBKM. Magang DUDI istilahnya, magang dunia usaha dan dunia industri," kata Farisi pada Rabu, 13 Desember 2023.

Sejauh ini, kata Farisi, belum ada keluhan dari mahasiswanya dan tak ada yang meminta pulang ke Indonesia sebab sejak awal telah diberitahukan perihal pekerjaan. Menurut Farisi, para mahasiswa Unja hanya mengeluhkan kendala seperti gegar budaya atau culture shock.

"Karena dia kan belum sarjana ya, artinya belum punya keterampilan khusus atau apa. Jadi, di sana itu pekerjaan yang tidak membutuhkan keterampilan khusus, misalnya mengepak barang," kata Farisi.

Menurut Farisi, puluhan mahasiswa itu akan pulang Desember ini. Jika memang diputuskan Ferienjob tidak dilanjutkan, kampusnya akan menurut. "Kalau tahun depan dihentikan, ya kami ndak ngirim lagi," ujarnya.

Pada tahun lalu, Koordinator Ferienjob untuk Indonesia Amsulistiani Ensch atau Ami mengatakan konversi magang mahasiswa berhasil. Apabila kini pemerintah memutuskan untuk tak mengaitkan dengan magang, perlu diskusi bersama.

"Mahasiswa mengajukan kegiatan mereka Ferienjob itu dikonversi ke beberapa penilaian magang, itu disetujui. Tapi jika akhirnya di 2023 ini sebaiknya tidak membawa-bawa istilah magang, berarti kita harus duduk bersama agar tidak ada salah paham lagi," kata Ami.

Saat ini, berdasarkan data milik Ami, mulanya ada 2.056 pendaftar dari seluruh kampus, namun hanya 1.800 yang diterima oleh perusahaan di Jerman. Setelah diusulkan ke ZAV, sebanyak 1.500 disetujui dan hanya 1.100 mahasiswa yang mendapatkan visa. Total mahasiswa Indonesia yang Ferienjob di Jerman sekarang berjumlah 856, sedangkan sisanya tak bisa berangkat.

Baik Enik, Ami dan Devdy mengatakan sejumlah mahasiswa Ferienjob mengalami sakit dan dirawat. Bahkan, kata Enik, ada yang sampai harus dioperasi tujuh kali. "Mungkin saking senangnya landing di airport, baru mau jalan ke akomodasi, dia kecengklak. Itu kecelakaan di luar kerja operasi hampir sampai 7 kali, dicover oleh asuransi," ujarnya.

Enik mengatakan ada empat mahasiswa memutuskan pulang karena komplain dengan pekerjaan di Jerman yang tak sesuai dengan kompetensi studinya. "Di mindset mereka masih terbayang dengan bahasa magang. Pekerjaan mahasiswa ini angkat barang, jurusannya IT misalnya, jadi kan tidak sesuai. Akhirnya, mereka mengundurkan diri. Mahasiswa ini hanya bekerja dua hari kalau enggak salah. Sudah pulang ke Indonesia setelah satu minggu di KBRI," kata dia.

Ami mengatakan ia pernah melakukan survei internal mengenai Ferienjob untuk seluruh peserta. Hasilnya, 70 persen peserta memberikan tanggapan positif, sisanya memilih netral dan ada pula yang menyatakan tidak sesuai.

Devdy mengatakan KBRI bukan menghalangi Ferienjob, sebab kesempatan ini telah ada sejak lama dan diikuti oleh mahasiswa Indonesia yang kuliah di Jerman. "Kalau misalkan ada peminat dari Jakarta mau bekerja di Jerman dengan skema Ferienjob ini, sangat tidak masalah. Yang menjadi concern kami adalah Ferienjob dijadikan sebagai MBKM. Secara hukum, itu kan tidak sesuai. Visa juga berbeda," kata dia.

Untuk saat ini, kata Devdy, kesalahpahaman yang ada harus dibereskan terlebih dahulu. "Kami mau meng-clear-kan dulu, apakah memang disengaja atau tidak, tidak tahu atau memang kurang paham," ujarnya.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus