Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Medan - Gempa Tapanuli berkekuatan Magnitudo 5,8 yang terjadi pada Sabtu dini hari tadi, 1 Oktober 2022, disebut mengakibatkan sejumlah rumah warga rusak. Warga pun cemas akan adanya gempa susulan.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Manonggor Simatupang, warga di Desa Simangumban,Pahae, Kabupaten Tapanuli Utara mengatakan dia dan keluarganya tengah tertidur lelap saat gempa terjadi sekitar pukul 02.30 WIB dini hari tadi. Dia menyatakan warga di desanya pun berhamburan ke luar rumah karena merasakan guncangan yang sangat kencang.
"Saya tersentak karena rumah terguncang ke kiri kanan dengan kerasnya. Kami baru sadar ada gempa dan langsung lari keluar rumah. Warga berkumpul di halaman. Gempa ini sangat keras dan berlangsung sekitar 2 menit." kata Manonggor kepada Tempo.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Sejumlah rumah warga dikabarkan rusak
Dia mengaku mendapat informasi soal adanya beberapa rumah warga yang rusak akibat gempa tersebut. Warga, menurut dia, sedang melakukan pendataan soal kerusakan rumah dan kemungkinan adanya korban.
"Kami sedang bersama warga mendata barangkali ada rumah warga yang rusak." katanya.
Manonggor pun mengatakan bahwa warga sudah kembali beraktifitas seperti biasa. Sebagian warga sudah berangkat ke ladang meski masih cemas adanya gempa susulan.
Pengumuman BMKG
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika atau BMKG mengumumkan gempa tektonik berkekuatan Magnitudo 5,8 terjadi pada dini hari tadi di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara.
Pelaksana tugas Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menjelaskan, pusat gempa terletak pada koordinat 2,11 derajat Lintang Utara; 98,83 derajat Bujur Timur atau tepatnya berlokasi di darat wilayah Kabupaten Tapanuli Utara, pada kedalaman 10 kilometer.
Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, kata Daryono melalui keterangan tertulis, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas Sesar Besar Sumatera segmen Renun.
"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan geser (strike-slip)," ujar Daryono.
Menurut Daryono, Gempa Tapanuli ini berdampak dan dirasakan di Kota Tarutung dan sekitarnya dengan skala intensitas VI MMI atau getaran dirasakan oleh semua penduduk.
SAHAT SIMATUPANG