Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Pendidikan

Kisah Jerry, Selamat dari Likuifaksi yang Menggulung Petobo

Cerita Jerry A.M yang selamat dari likuifaksi di Petobo setelah gempa Donggala dan Palu pada 28 September 2018 lalu.

10 Oktober 2018 | 16.59 WIB

Image of Tempo
Perbesar
Seorang pria berjalan di antara reruntuhan bangunan di kawasan Petobo yang terdampak likuifaksi pascagempa di Palu, Sulawesi Tengah, Rabu, 10 Oktober 2018. Lumpur tebal yang menyelimuti kawasan Petobo juga menyulitkan tim penyelamat untuk mengevakuasi jasad korban yang masih tertimbun. TEMPO/Francisca Christy Rosana

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Jerry A.M menatap wilayah di perkampungan Petobo, Sulawesi Tengah yang luluh lantak digulung likuifaksi beberapa saat setelah gempa magnitudo 7,4 SR mengguncang Donggala dan Palu, 28 September 2018 lalu.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Atap-atap rumah tampak rata dengan tanah bercampur lumpur. Jalanan pun ibarat jurang-jurang kecil yang menganga. Desa Petobo hilang bak ditelan bumi. Rumah-rumah terjerembab dalam patahannya.

Saat menapaki kembali Petobo, Jerry tampak getir mengenang jalanan yang biasa ia lalui menuju ke kantornya itu. "Saya ingat bagaimana jalanan ini dulu begitu mulus," kata Jerry, 49 tahun.

Jerry amat akrab dengan kampung Petobo. Saban pergi dan pulang kerja, ia selalu melewati kawasan itu. Petobo juga menjadi wilayah yang harus dilewati kalau dia hendak menuju kota.

Kantor Jerry, yakni sebuah kantor BUMN, berlokasi di seberang Petobo. Ia mengenang punya jalan favorit di Petobo, yakni berupa jalan turunan yang curam. "Saya bisa matiin mesin motor dan menggelontorkan ban di sini tanpa mesin," katanya.

Matanya menerawang saat bercerita. Di tengah terik matahari Palu yang menyengat, dahinya mengerenyit. Ketika gempa terjadi, ia hampir saja melewati Petobo. "Saya waktu itu mau mengantar anak saya potong rambut ke Veteran. Mau lewat Petobo tapi enggak jadi," ujarnya.

Ada perasaan ganjil yang mendorongnya tak mau melewati jalan itu bersama anaknya. Tak biasanya dia enggan melalui jalan favoritnya. Jerry lun berbelok ke jalur alternatif. Saat melintasi jalur alternatif, menjelang magrib sore itu, 28 September, goyangan besar terjadi. Ia oleng dari motor, namun bisa bangkit dan menyelamatkan diri.

Jerry melewati jalur yang tak terdampak likuifaksi. Namun ia sempat mendengar jerit tangis dan gemuruh suar dari dalam perut bumi. Namun ia berserah terus melaju balik ke rumah hingga selamat.

Dalam perjalanan, Jerry memikirkan teman baiknya yang bermukim di kampung Petobo. "Dia Pak Ahmad dan istrinya, Ibu Sutiah, tak tahu bagaimana kabarnya," ujarnya. Ia berserah lantaran ribuan nyawa tertimbun di tanah yang diinjaknya sekarang.

Menurut Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, di desa Petobo yang mengalami likuifaksi ditemui ribuan rumah yang rusak. Wilayah tersebut tertutup lumpur seluas 180 hektar. "Perkiraan bangunan terdampak sebanyak 2.050 unit," kata dia dalam keterangannya pada Ahad, 7 Oktober 2018.

Jerry pun kembali menerawang. Matanya fokus melihat sebuah tiang bendera yang berdiri di tengah reruntuhan. Namun, pandangannya kosong. "Semoga pemerintah memberi tempat hidup yang layak bagi yang selamat," katanya.

Francisca Christy Rosana

Francisca Christy Rosana

Lulus dari Universitas Gadjah Mada jurusan Sastra Indonesia pada 2014, ia bergabung dengan Tempo pada 2015. Kini meliput isu politik untuk desk Nasional dan salah satu host siniar Bocor Alus Politik di YouTube Tempodotco. Ia meliput kunjungan apostolik Paus Fransiskus ke beberapa negara, termasuk Indonesia, pada 2024 

Image of Tempo

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus